
Oleh: Abdullah
Untuk menunaikan ibadah puasa, kita harus memiliki ilmu yang cukup memadai tentang rukun yang wajib kita lakukan, syarat-syaratnya, hal yang boleh dan membatalkan, serta apa saja yang dianjurkan.
Pengetahuan yang memadai tentang puasa ini akan selalu menjadi panduan pada saat kita berpuasa. Ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kita serta akan mampu melahirkan puasa yang berbobot dan berisi. serupa sabda Nabi SAW, “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dan mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang seharusnya diperhatikan maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa sebelumnya”. (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi).
Dalam banyak keterangan hadits, ibadah shaum (puasa) sangat banyak mengandung hikmah dan besar pahalanya. Di antaranya saja orang mukmin yang menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka dosa-dosa yang terdahulu akan diampuni Allah SWT sebagaimana sabda Nabi SAW yang diriwayatkan Abu Hurairah ra., “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan penuh dengan keimanan (yakin atas pahalanya) dan keikhlasan, pasti diampuni dosa-dosa terdahulu”.
Tetapi bagi orang yang puasanya tidak mampu mengekang anggota badan (alat indra nya) dari segala perbuatan dosa hanya akan sia-sia saja.
Puasa itu bukan sekedar berhenti makan dan minum belaka, namun dituntut juga berhenti mengucapkan ucapan dan berbuat maksiat. Ia tidak akan memperoleh apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Hal itu dinyatakan dalam sabda Nabi SAW, “Kebanyakan orang yang berpuasa tidak mampu menghasilkan hasil, kecuali lapar dan dahaga”. (HR.Bukhari).
Kata puasa berasal dari bahasa Arab yaitu shaum yang mengandung arti meninggalkan sesuatu atau menahan diri dari sesuatu. Sedangkan menurut istilah shaum adalah menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan disertai niat untuk berpuasa.
Sebenarnya ditinjau dari sudut pandang fikih, pasca mereka dapat dipandang sah, namun karena faktor-faktor lain, maka pahalanya menjadi hilang atau batal.
Dalam keterangan hadits yang diriwayatkan Anas ra., Rasulullah SAW bersabda, “Ada 5 hal yang dapat membinasakan pahala puasa yaitu; dusta, ghibah, adu domba, sumpah palsu, dan memandang lawan jenis penuh syahwat (pria dan wanita saling memandang)”.
- Dusta atau berkata dusta; mereka berkata tidak jujur, tidak selaras antara hati dan lisan, tidak sesuai antara ucapan dan kenyataan. Dusta ini akan sangat berbahaya jika telah menjadi kebiasaan sehari-hari. Lebih berbahaya lagi jika berdusta dilakukan secara berjamaah. Bahaya yang ada di sini sebenarnya tidak hanya merugikan kesehatan, tetapi akan merugikan kehidupan sosial secara umum. Bila kesimpulan itu telah diatur dengan rapi, maka Allah akan menurunkan malapetaka ke muka bumi ini.
- Ghibah adalah membicarakan kejelekan-kejelekan orang lain, atau yang lebih populer disebut gosip. Terkait hal ini Allah SWT dalam firman-Nya menegaskan, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik padanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat 49:12).
- Adu domba (provokasi). Seseorang yang mengakibatkan terjadinya anarkis dan kekacauan, ia tidak akan memperoleh pahala shaum. Inti shaum adalah untuk menebar kasih sayang antara sesama manusia, sehingga tindakan adu domba otomatis melunturkan nilai shaum.
- Sumpah palsu. Dalam upaya berjanji kepada orang lain, ia tak segan-segan bersumpah palsu. Ucapan demi Allah menjadi penghias setiap pembicaraannya, padahal tidak sesuai dengan kenyataan. Orang seperti ini tidak akan mendapatkan pahala shaum.
- Memandang lawan jenis penuh syahwat, sekalipun terhadap suami istri, bisa menghilangkan pahala puasa. Sehingga kita harus menjaga pandangan dengan baik. Lebih baik berada di masjid (beriiktikaf) daripada pergi ke tempat-tempat di mana pemandangan kita tidak bisa terjaga dari hal-hal tercela.
Dengan memperhatikan ke-5 hal yang dapat menghilangkan pahala tersebut, insyaallah shaum kita akan terpelihara dan bernilai tinggi di hadapan Allah SWT.
Menjalani ritual puasa (Rukun Islam ke-4) dengan baik dan benar sesuai syariat yang dianjurkan, sebenarnya mengandung banyak hikmah. Hal ini bisa dilihat dari beberapa aspek;
- Puasa dapat mengendalikan syahwat dan mengurangi pengaruhnya.
- Berpuasa akan mendidik untuk selalu jiwa takut kepada Allah SWT, baik di waktu dan tempat yang sunyi maupun ramai.
- Puasa membuat hidup berdisiplin. Ibadah puasa merupakan pengekangan diri dari perbuatan yang membatalkannya, proses bagaimana agar kita mampu mendisiplinkan diri. Puasa bukanlah semata-mata amalan yang dilihat secara kasat mata oleh banyak orang, tetapi yang dapat melihat hanya diri sendiri dan Allah SWT, sehingga pada hakikatnya puasa adalah amalan batin yang berbentuk kesabaran dan keikhlasan semata.
- Puasa dapat mengembangkan nilai-nilai sosial seperti menghadirkan kepekaan kasih sayang, sehingga rela berkorban untuk orang lain. Hal ini akan melahirkan suatu bentuk persaudaraan dalam masyarakat.
- Puasa dapat memperbaiki kondisi psikologis manusia yang berpengaruh terhadap kondisi fisiknya. Dalam puasa dididik untuk mengistirahatkan anggota badan yang mengolah pencernaan makanan, sehingga terbentuk anggota badan yang dilatih untuk menjadi kuat.
- Puasa dapat membentuk akhlak mulia. Dengan berpuasa seorang mukmin dididik untuk melakukan perbuatan yang baik dan mulia, karena perbuatan yang sifatnya mungkar dan maksiat dapat membatalkan puasa. Dengan berpuasa setiap orang dapat mengubah sikapnya menuju tingkat yang lebih baik.
Ketahuilah bahwa puasa memang dipersiapkan sebagai sarana untuk mencapai “takwa”, sehingga tolok ukur dalam berpuasa sejauh besar mencapai tujuan yang diinginkan Allah SWT yaitu suci hati dan akhlaknya yang baik melalui perbuatan dengan kerelaan hati. Sedangkan manusia yang memahami hikmah adalah manusia yang mampu mengelola mulut, tangan, dan kakinya untuk senantiasa berpuasa seumur hidupnya.
Ada baiknya kita beriktibar (mencontoh) kehidupan ulat yang berubah menjadi kupu-kupu. Binatang kecil yang disebut ulat keberadaannya sangat menjijikkan. Menyadari bila dirinya banyak membuat tidak nyaman bagi kebanyakan makhluk lainnya (terutama manusia), maka ulat yang buruk rupa itu bermuhasabah (berintrospeksi). Atas sunatullah Allah SWT yang telah memberikan kenyamanan hewani kepadanya untuk mengubah rupa melalui proses berpuasa di dalam kepompong.
Menurut hitungan para ahli biologi, selama kurun waktu dua puluh satu hari, ulat itu tak pernah berniat melirik pun melihat terangnya dunia. Ia berteguh hati untuk tetap berpuasa dalam kepompong dengan rupa dan bentuk yang sangat menakjubkan. Ulat berubah menjadi kupu-kupu yang begitu elok dan rupawan, sehingga banyak makhluk lain (terutama manusia) menyenanginya karena saking indahnya. Subhanallah… Allahu Akbar.
Lalu, mampukah kita dalam menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan ini mengubah karakter seperti kehidupan ulat yang berubah menjadi kupu-kupu? Semoga, atas hidayah dan rida-Nya kita kembali menjadi makhluk yang fitri, bagai bayi yang terlahir ke dunia masih dalam keadaan suci yang belum ternoda dari lumuran dosa. Amin…

